Jateng Targetkan Layani 147. 654 Akseptor Di Puncak Peringatan Harganas

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau pelaksanaan Pelayanan KB Serentak Sejuta Akseptor di Kantor Kecamatan Semarang Utara (29/7) didampingi Kepala perwakilan BKKBN Jateng Martin Suanta dan Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. Gubernur berdialog dengan salah satu akseptor dan mendengarkan keluh kesahnya mengenai penggunaan alat kontrasepsi. Foto: Dok. Tatas

Semarang – Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, seperti halnya perwakilan BKKBN seluruh Indonesia, akan memperingati  Hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni tahun ini dengan nuansa yang berbeda. Pandemi Covid-19 di seluruh dunia telah mengubah cara hidup manusia. Protokol kesehatan kini menjadi hal utama untuk mencegah penyebaran Covid-19. BKKBN berikut Mitra Kerja Pusat dan Daerah peka terhadap hal ini dan melakukan penyesuaian dalam memperingati Harganas ke-27 dan internalisasi nilai-nilai di dalamnya. Mengusung Tema “Melalui Keluarga kita wujudkan Sumber Daya Manusia unggul menuju Indonesia maju”, Harganas tahun ini diharapkan mampu menyatukan gerak dalam membangun Keluarga Berkualitas.

“Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) yang jatuh pada tanggal 29 Juni tahun ini dirayakan di tengah situasi kecemasan akibat pandemi sehingga memberikan suasana yang berbeda. Dibalik kesulitan pada masa pandemi ini, ternyata memberikan ruang dan peluang antar anggota keluarga untuk lebih saling mengenal”, kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo.

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah Martin Suanta mengatakan dalam sambutannya sebagai Inspektur Upacara Harganas di Kantor Perwakilan BKKBN Jateng, bahwa Program Bangga Kencana penting untuk tetap dilestarikan di tengah-tengah masyarakat dan diharapkan mampu menjangkau setiap keluarga di manapun berada terlebih dalam suasana prihatin akibat pandemi.

“Melalui Bangga Kencana BKKBN bertekad untuk terus berupaya meningkatkan kepedulian keluarga lndonesia dalam membangun keluarga berkualitas demi pembangunan sumber daya manusia lndonesia seutuhnya” ucap Martin.

BKKBN sejak awal terjadinya pandemi telah merespon risiko terjadinya kenaikan angka kehamilan yang disebabkan menurunnya jumlah pelayanan KB. BKKBN memprediksi ada sekitar 400.000 kehamilan yang tidak direncanakan di saat pandemi akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meningkatnya durasi waktu kebersamaan suami istri di rumah selama pandemi ini tercatat meningkatkan frekuensi hubungan seksual. Jika Pasangan Usia Subur (Usia 15-49 tahun) tidak terlindungi dengan alat kontrasepsi maka dapat menyebabkan lonjakan angka kehamilan di masa pandemi ini. Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan bahwa kasus kehamilan dapat meningkat di masa pandemi Covid-19 ini dikarenakan dua hal, dari sisi calon akseptor KB dan penyedia layanan kontrasepsi.

“ Secara nasional memang ancaman baby boom atau kenaikan kelahiran sudah di prediksi , karena menurunnya pelayanan keluarga berenca- KB  akibat khawatir  Covid-19,”  Ungkap  Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah  Martin Suanta di sela sela kegiatan pelayanan aseptor dalam rangka Hari Keluaga Nasional Tingkat Provinsi Di kantor Kecamatan Semarang Utara.

“Meskipun kenaikan angka kehamilan tidak siginifikan namun tetap memprogramkan pelayanan  akseptor sebanyak 147. 654  di seluruh 35 Kabupaten-Kota di Jawa Tengah “,  lanjut Martin Suanta .

BKKBN selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah antara lain dengan menugaskan PKB selain untuk menyuluh juga mendistribusikan alat kontrasepsi pada akseptor. PKB dikoordinasi oleh kepala dinas di bawah Bupati dalam melaksanakan tugasnya. Kepala BKKBN juga menyurati para kepala daerah untuk menggratiskan retribusi pemasangan alat kontrasepsi selama pandemi.

Langkah strategis segera diambil oleh BKKBN bersama stakeholder terkait upaya mencegah lonjakan kehamilan di masa pandemi yakni dengan menggelar Pelayanan Sejuta Akseptor di seluruh Indonesia. BKKBN mengajak segenap stakeholder untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Jateng menargetkan dapat melayani akseptor sebanyak 147. 654. Harapannya melalui pelayanan besar-besaran ini, kebutuhan ber-KB masyarakat dapat terpenuhi dan putus pakai kontrasepsi akibat keterbatasan pelayanan akibat Covid-19 dapat diatasi. Masyarakat yang ingin dilayani, cukup menghubungi Penyuluh KB dan Kader KB setempat untuk mendapatkan waktu dan tempat pelayanan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penumpukan antrian. Protokol kesehatan selalu diutamakan dalam kegiatan ini.

Gubernur Jawa Tengah hadir untuk meninjau  pelaksanaan Pelayanan KB di Kecamatan Semarang Utara dan Praktek Bidan Mandiri Istirokhah di Puri Anjasmoro sekaligus berdialog dengan akseptor dan tenaga medis yang bertugas di sana. Sejumlah masker dan face shield juga akan diserahkan oleh Gubernur pada Penyuluh KB, Kader dan Bidan.

Di sisi penggerakan dan sosialisasi, Gubernur Jawa Tengah menegaskan, sosialsi tentang KB ditengah pandemi harus melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat hingga lembaga pemerintah maupun non pemerintah sehingga baby boom atau tingginya angka kelahiran dapat ditekan.

“Kita harus melibatkan semua stakeholder terkait pentingnya keluarga berencana melalui sosialisai dan penjelasan dan rasionalitas yang bagus “, kata Gubernur Ganjar Pranowo.

Sebelum acara inti pada tanggal 29 Juni, sebelumnya Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah telah melakukan pra acara sesuai yang arahan BKKBN pusat yakni melakukan sosialisasi dan penyebarluasan informasi Harganas dan Pelayanan KB Sejuta Akseptor di berbagai media, beraudiensi dengan stakeholder diantaranya Gubernur Jawa Tengah dan Kepala DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah. Koordinasi dan pemantapan kegiatan pun selalu dilakukan meski secara virtual. T2S

Penyunting

BKKBN PROVINSI JAWA TENGAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *