Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Berikan Perhatian Kepada Para Adiyuswa di Jawa Tengah

Kepala Perwakilan BKKBN Jateng memberikan arahan pada Pengelola Bina Keluarga Lansia (BKL), Ikatan Penyuluh KB dan Kader BKL Pilihan Kabupaten/ Kota se-Jawa Tengah serta mitra provinsi dari Komisi Daerah (Komda) Lansia. Foto: Dok. Tatas

UNGARAN – Melihat struktur penduduk Indonesia dalam kurun 5 dasawarsa terakhir terjadi peningkatan dua kali lipat persentase lansia. Bahkan di tahun 2019, persentase lansia mencapai 9,6% atau sekitar 25,64 juta jiwa.

Satu sisi, ada indikasi bahwa usia harapan hidup penduduk Indonesia mulai perlahan naik. Namun, di lain sisi, menjadi pekerjaan rumah dan tantangan untuk tetap dan terus menjaga kualitas hidup para lansia yang semakin banyak ini.

Hal ini membuat Perwakilan BKKBN Jawa Tengah mencoba menginisiasi kegiatan bertemakan “Integrasi Pendampingan dan Perawatan Jangka Panjang bersama Mitra Kerja” yang diselenggarakan di The Wujil Convention Kabupaten Semarang, Selasa (28/7).

Hadir dalam kegaiatan ini diantaranya para Pengelola Bina Keluarga Lansia (BKL), Ikatan Penyuluh KB dan Kader BKL Pilihan Kabupaten/ Kota se-Jawa Tengah serta tak lupa mitra provinsi dari Komisi Daerah (Komda) Lansia.

Martin Suanta, SE, M.Si selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah menjelaskan dalam sambutannya bahwa saat ini struktur penduduk Jawa Tengah mengarah pada kondisi “Aging Population” yang berarti usia lansia (60 tahun ke atas) mencapai 10% dari total penduduk yang ada.

“Perlu pendampingan dan perawatan yang lebih bagi kelompok lansia ini, kelompok rentan, terlebih kondisi pandemi saat ini. Transformasi BKL untuk membantu meningkatkan perlindungan terhadap lansia mutlak dilakukan”, tegasnya di hadapan peserta kegiatan.

Tak jauh berbeda dengannya, narasumber dari Aging Research Center Universitas Diponegoro, Dr. Yeniar Indriana, MS,.Psi menyebutkan bahwa menjadi tugas semua menciptakan support system yang baik bagi adiyuswa (lansia).

“Support system ini adalah keluarga dan lingkungan di sekitar lansia. Tugasnya menciptakan kondisi dimana para adiyuswa selalu bahagia dan senang  dalam menjalani aktifitasnya”, jelas Yeni, yang juga dosen psikologi di Universitas Diponegoro.

Menambahkan penjelasan Kaper mengenai transformasi BKL, Agus Poedjianto, Kabid Keluarga Sejahtera Perwakilan BKKBN Provinsi Jateng dalam paparannya menjelaskan bahwa hal tersebut dapat dimulai dari proses pencatatan dan pelaporan.

Hal ini diperlukan sebagai langkah untuk memetakan potensi yang ada guna nantinya untuk menyusun strategi yang tepat dan pas sasaran.

Tak lupa, ia juga menjelaskan bahwa BKKBN juga mempunyai aplikasi yang diperuntukkan bagi kader BKL maupun lansia dan keluarganya yaitu Go Lantang BKKBN. Aplikasi ini menyediakan rubrik, informasi dan konsultasi mengenai segala hal tentang kelanjutusiaan dan dapat diunduh di playstore secara gratis.

Kegiatan selama sehari penuh ini diharapkan mampu mensinergikan program-program kelanjutusiaan yang ada di semua level sekaligus membekali kader dan pengelola BKL dengan pengetahuan baru mengenai kelanjutusiaan dalam rangka mewujudkan lansia yang tangguh. [AFDA–AKIE]

Penyunting

BKKBN PROVINSI JAWA TENGAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *