Memaknai Keluarga ​Sebagai Basis Utama Penerapan Revolusi Mental

(Oleh Firma Novita – Widyaiswara Pertama BKKBN)

Revolusi Mental pertama kali dicetuskan oleh Presiden Soekarno dalam pidato kenegaraan beliau saat memperingati Proklamasi Kemerdekaan tahun 1957. Pada masa itu Presiden Soekarno melihat revolusi nasional dalam kondisi yang stagnan karena adanya penurunan semangat jiwa revolusioner, pola pikir kolonial serta banyaknya penyelewengan serta penyakit mental yang dapat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.  Sehingga melihat kondisi saat itu, maka Bung Karno pun menyerukan perlunya “Revolusi Mental”.

Beliau mengatakan, “Karena itu maka untuk keselamatan bangsa dan negara, terutama dalam taraf nation building dengan segala bahayanya dan segala godaan-godaannya itu, diperlukan satu Revolusi Mental.” Esensi dari revolusi mental tersebut menurut Bung Karno adalah perombakan cara berpikir, cara kerja/berjuang, dan cara hidup agar selaras dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi nasional. “Revolusi mental adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”.

Saat ini, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, semangat Revolusi Mental ini kembali digaungkan. Presiden Joko Widodo menyerukan sebuah Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang ditujukan untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat dan berkarakter. Gerakan ini didasarkan pada kenyataan bahwasanya bangsa yang maju ditentukan oleh mentalitas yang tangguh, baik individual maupun kolektif dari warga negaranya dan merupakan ikhtiar untuk mencapai tujuan utama pembangunan nasional, yaitu memajukan kesejahteraan umum, meningkatkan kualitas hidup manusia, dan masyarakat Indonesia serta membangkitkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia memiliki kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif, dan berpotensi menjadi bangsa maju dan modern, serta mengubah cara pandang, pikiran, sikap, perilaku, yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan. Dengan demikian diharapkan Indonesia menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sebagai upaya mendukung terlaksananya Gerakan Nasional Revolusi Mental ini, maka hal yang paling utama untuk segera dilaksanakan adalah membangun karakter bangsa yang berkepribadian yang tentunya harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga. Membangun manusia-manusia tangguh yang berkarakter sehingga mampu mengelola seluruh sumber daya yang ada dengan bijak dan arif menuju Indonesia yang berdaya saing, berkarakter dan berkepribadian.

Pendidikan karakter….

Ya!

Tepat sekali, untuk mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental ini perlu adanya pendidikan karakter. Kemudian muncul pertanyaan, dimana pendidikan karakter tersebut dapat dilakukan? Kapan dilakukan? Bagaimana cara melakukannya? Jawabannya adalah KELUARGA.

Mengapa keluarga?

Sesuai dengan Undang-undang no 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pengertian Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Keluarga merupakan wadah pengembangan karakter pertama bagi seorang anak. Keluarga adalah bagian terkecil dari struktur organisasi di masyarakat, keluarga merupakanstage awal kehidupan individu manusia berasal.

Keluarga sebagai  komunitas pertama dimana manusia, sejak usia dini belajar konsep baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah. Keluarga yang membentuk sifat dan karakter seseorang untuk belajar dan menerapkan tata nilai serta norma perilaku. Keluarga kemudian dijadikan cerminan dari kepribadian terhadap keluasaan pengetahuan dan ilmu yang dimiliki. Seseorang dikatakan berhasil dalam hidupnya karena juga didukung oleh keluarga yang berhasil mengantarkan dirinya.

Apalagi saat ini kita menghadapi era globalisasi, dimana berbagai tantangan yang berat datang menghadap dengan berbagai perubahan yang bisa berdampak positif maupun negatif terhadap perkembangan anak. Padahal apabila berkaca pada masa lalu, keluarga merupakan lembaga yang ampuh sebagai wahana pembentukan dan pengembangan mental serta keluarga juga menjadi institusi pendidikan yang handal bagi setiap anggotanya dalam penanaman nilai-nilai sosial dan religi. Oleh karena itu pada saat ini, kenapa tidak kita mengembalikan peran keluarga sebagai basis utama dalam membentuk karakter dan tentunya membangun revolusi mental.

Hal yang melandasi alasan mengapa revolusi mental itu harus dimulai dari keluarga, adalah karena:

  • Keluarga merupakan pilar pembangunan bangsa.
  • Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang mempunyai peranan penting dalam  memenuhi kebutuhan “asah, asih, dan asuh“.
  • Keluarga merupakan tumpuan untuk menumbuh-kembangkan dan menyalurkan potensi setiap anggota keluarga.

Oleh karena itu, pendidikan karakter dalam upaya revolusi mental dapat dilakukan melalui keluarga. Keluarga merupakan lembaga pendidikan terkecil namun memiliki peran yang begitu besar dalam menanamkan nilai-nilai moral revolusi mental. Penerapan nilai-nilai revolusi mental sebagai upaya perubahan karakter dan jati diri bangsa harus dimulai sejak dini atau fase pertama kehidupan.  Oleh karena itu, konsep revolusi mental dirancang dimulai dari keluarga, sebab di dalam lingkungan keluarga lah seorang manusia memulai fase kehidupannya. Penerapan nilai-nilai tersebut dimulai dari keluarga sejak dini dimaksudkan agar setiap fase kehidupan manusia dapat tersentuh oleh upaya pembentukan karakter yang berintergritas, memiliki etos kerja dan rasa kegotong royongan yang tinggi.

Nah, peran keluarga terutama orang tua dalam revolusi mental dapat dilaksanakan melalui delapan fungsi keluarga yaitu fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan,  fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pelestarian lingkungan. Melalui fungsi-fungsi ini orang tua dapat berperan untuk menanamkan nilai-nilai esensial dari Revolusi Mental itu sendiri yaitu bagaimana kita mampu berintegritas, mempunyai etos kerja yang tinggi, serta mempunyai semangat gotong royong.

 

  1. Fungsi agama

Agama adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang ada sejak dalam kandungan. Keluarga adalah tempat pertama seorang anak mengenal agama. Keluarga adalah tempat pertama setiap orang mengenal agama. Di keluarga lah kita menanamkan dan menumbuhkan serta mengembangkan nilai-nilai agama, sehingga anak menjadi manusia yang berakhlak baik dan bertaqwa. Karena penting bagi masing-masing individu untuk mengetahui dan sadar dengan tanggung jawab yang dipikulnya, termasuk dengan pengetahuan akan eksistensinya sebagai manusia yang dicipta oleh yang Maha Pencipta. Dalam fungsi agama, terdapat 12 nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga. 12 nilai tersebut yaitu iman, taqwa, kejujuran, rajin, kesalehan, ketaatan, suka membantu, disiplin, sopan santun, sabar dan ikhlas, serta kasih sayang,

​​

  1. Fungsi sosial budaya

Pada fungsi sosial budaya, keluarga merupakan wahana pertama dan utama dalam pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur budaya sebagai panutan dalam tata kehidupan. Keluarga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang selama ini sudah menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.  Dalam fungsi sosial budaya, terdapat 7 (Tujuh) nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga. Tujuh nilai dasar tersebut diantaranya gotong royong, sopan santun, kerukunan, peduli, kebersamaan, toleransi, dan nasionalisme.

 

  1. Fungsi cinta kasih

Hal yang bisa membuat seseorang merasa nyaman adalah kasih sayang. Kasih sayang menjadi komponen utama dalam membentuk karakter seorang, terutama anak. Orangtua berkewajiban menciptakan suasana yang penuh kasih dan sayang di dalam keluarga. Dengan kasih sayang, maka keluarga akan menjadi tempat paling nyaman bagi anggota keluarga nya untuk berinteraksi.

Untuk menanamkan nilai-nilai cinta dan kasih pada keluarga, orangtua mesti mengajarkan beberapa sikap kepada anak-anaknya. Di antara sikap-sikap tersebut adalah: empati, suasana keakraban, keadilan, pemaaf, kesetiaan, suka menolong, dan tanggung jawab.

 

  1. Fungsi perlindungan

Keluarga merupakan pelindung yang pertama dan utama dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan keteladanan pada anak-anak. Oleh karena itu keluarga berkewajiban memberikan rasa aman, tenang, dan tenteram bagi anggotanya. Untuk mendukung fungsi tersebut, maka keluarga harus memahami dan menanamkan lima nilai dasar, yaitu: aman, pemaaf, tanggap, tabah, dan peduli.

 

  1. Fungsi reproduksi

Keluarga mempunyai fungsi reproduksi karena salah satu tujuan berkeluarga adalah untuk melanjutkan keturunan. Dalam menjalankan fungsi reproduksi,, keluarga berkewajiban menanamkan tiga nilai dasar, yaitu: tanggung jawab, sehat, dan teguh. Dengan menanamkan tiga nilai dasar ini niscaya keluarga dapat menjalankan fungsi reproduksi dengan baik dan bertanggung jawab.

 

  1. Fungsi sosialisasi pendidikan

Pada fungsi sosia­lisasi pendidikan, keluarga bertanggungjawab mem­bina dan membentuk tingkah laku anak sesuai dengan perkembangan masing-masing. Keluarga harus mema­namkan beberapa nilai moral utama, yaitu: percaya diri, luwes, bangga, rajin, kreatif, tanggung jawab, dan ker­jasama.

 

  1. Fungsi ekonomi

Keluarga harus dapat menjadi tempat membina dan menanamkan nilai-nilai keuangan agar terwujud keluarga yang sejahtera dalam aspek ekonomi. Orangtua mesti menanamkan kepada anak-anaknya bagaimana menyikapi kehidupan ekonomi dengan baik dan bijak. Orangtua berkewajiban membangun kebiasaan positif anak-anak dalam mengelola ekonomi secara mandiri. Di antara nilai-nilai yang mesti ditanamkan orangtua berkaitan dengan pengelolaan keuangan adalah: hemat, teliti, disiplin, peduli, dan ulet.

 

  1. Fungsi lingkungan

Penanaman nilai fungsi lingkungan harus dilakukan sejak dini, agar tumbuh manusia-manusia yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan hidup. Semangat peduli lingkungan itu dapat ditanamkan dengan mengajarkan beberapa sikap dasar kepada anak-anak, yaitu: bersih, disiplin, pengelolaan, dan pelestarian.

 

Dengan demikian dapat kita lihat bahwa keluarga mempunyai 8 fungsi yang tentunya mampu membentuk karakter yang baik bagi seluruh anggota keluarganya. Tidak salah lagi, keluarga menjadi wadah dasar melalui penerapan 8 fungsinya untuk menginternalisasi nilai-nilai revolusi mental.

Sehingga dapat dikatakan bahwa revolusi mental sebuah bangsa tidak akan berhasil secara optimal jika tidak diikuti dengan revolusi mental di dalam keluarga. Keluarga Indonesia harus diakui menjadi tiang negeri yang kuat dan kokoh menuju Indonesia maju dan sejahtera. Keluarga sebagai garda terdepan pembangunan sosial dan kesejahteraan rakyat. Bayangkan saja jika nilai-nilai Revolusi Mental yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong tersebut diterapkan dalam 69 juta keluarga di Indonesia. Pasti akan menghasilkan dampak yang luar biasa…

Salam Revolusi Mental…

Sumber: Dikutip dari berbagai bacaan