Depan > Index Artikel > KB PASCA PERSALINAN
KB PASCA PERSALINAN
Selasa, 4 September 2012  |  BkkbN
Setiap kehamilan selayaknya memang direncanakan dan diharapkan keberlangsungannya. Namun, banyak orang yang nyatanya tak mampu mencapai kondisi ideal tersebut. Alhasil, mereka menerima karunia luar biasa itu dengan terpaksa. Oleh karena itu, agar tidak timbul keterpaksaan tersebut, hendaknya dilakukan antisipasi terlebih dahulu, antara lain dengan penggunaan kontrasepsi. Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontarsepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas. Pada umumnya klien pasca persalinan ingin menunda kehamilan berikutnya paling sedikit 2 tahun lagi, atau tidak ingin tambahan anak lagi. Konseling tentang keluarga berencana atau metode kontrasepsi sebaiknya diberikan sewaktu asuhan antenatal maupun pasca persalinan. Konseling tentang KB dimulai pada saat kunjungan asuhan antenatal (perawatan kehamilan) ke fasilitas pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan (dokter / bidan). Dimana pada saat melakukan asuhan antenatal tersebut ibu akan mendapatkan konseling selain konseling KB, juga tentang gizi dan ASI eksklusif, serta konseling tentang persiapan persalinan oleh tenaga kesehatan. KB pasca persalinan merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mengatur kelahiran, menjaga jarak kehamilan dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, agar dapat mengatur kehamilan melalui penggunaan alat / obat kontrasepsi setelah melahirkan. Pasca persalinan / masa nifas adalah suatu masa yang dimulai sejak bayi lahir diikuti dengan ke luarnya plasenta (ari-ari). Berakhir sampai rahim pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil, biasanya 40 hari. Berikut adalah kontrasepsi bagi ibu pasca persalinan yang menyusui : Kontrasepsi yang tidak mengandung hormonal merupakan pilihan utama. - Segera setelah plasenta lahir : MAL, IUD, MOW - Sebelum 2 X 24 jam : MOW - 6 minggu : IUD, MOW, Kontrasepsi progestin ( Pil, Suntik, Implant ) - 3 bulan : IUD, MOW, Kontrasepsi progestin ( Pil, Suntik, Implant ) - 6 bulan : semua jenis kontrasepsi baik hormonal maupun non hormonal sesuai dengan pilihan dan kondisi ibu. Kontrasepsi bagi ibu pasca persalinan yang tidak menyusui Jenis alat kontrasepsi yang dapat diberikan sama dengan jenis alat kontrasepsi untuk ibu menyusui, kecuali MAL. Pil kombinasi estrogen-progesteron dapat diberikan lebih awal, tidak diberikan sebelum minggu ke-3 pasca persalinan, implant dan suntikan KB 3 bulanan diberikan segera setelah melahirkan. A. Metode amenorea laktasi ( MAL ) MAL adalah suatu cara yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apa pun lainnya. MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila menyusui secara penuh dan lebih efektif bila pemberian ≥ 8x sehari sampai 6 bulan, belum haid, umur bayi kurang dari 6 bulan dan harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya. Cara kerja : penundaan/penekanan ovulasi Keuntungan MAL : • Efektivitas tinggi (keberhasilan 98% pada enam bulan pascapersalinan) / Segera efektif • Tidak mengganggu senggama • Tidak ada efek samping secara sistemik • Tidak perlu pengawasan medis • Tidak perlu obat atau alat • Tanpa biaya Keuntungan lain : Untuk bayi : • Mendapat kekebalan pasif (mendapatkan antibodi perlindungan lewat ASI) • Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi yang optimal • Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air, susu lain atau formula, atau alat minum yang dipakai. Untuk ibu : • Mengurangi pendarahan pasca persalinan • Mengurangi risiko anemia • Meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi Keterbatasan • Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalinan • Mungkin sulit dilaksanankan karena kondisi sosial • Efektivitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai dengan 6 bulan Tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual (IMS) termasuk virus hepatitis B/HBV dan HIV/AIDS Yang dapat menggunakan MAL adalah ibu yang menyusui secara eksklusif, bayinya berumur kurang dari 6 bulan dan belum mendapat haid setelah melahirkan. Sebaliknya yang seharusnya tidak menggunakan MAL adalah ibu yang sudah mendapat haid setelah bersalin, tidak menyusui secara eksklusif, bayinya sudah berumur lebih dari 6 bulan, ibu yang bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam. B. Kontrasepsi kombinasi (hormon estrogen dan progesteron) Bentuk pemberian kontrasepsi kombinasi dapat berbentuk tablet atau injeksi. Kontrasepsi oral biasanya dikemas dalam satu kotak yang berisis 21 atau 22 tablet, dan sebagian kecil berisi 28 tablet. Minipil digunakan tanpa masa istrahat yang terdiri dari 35 tablet. Sediaan depo injeksi dapat berupa injeksi mikro kristalin (depoprovera) atau cairan minyak dari asam lemak sterioid ester. Sediaan estrogen – gestagen dibagi menjadi kombinasi monofasik, bertingkat, dan sekuensial bifasik. C. Pil kombinasi Adalah pil kontrasepsi yang berisi estrogen maupun progesteron. Dosis estrogen ada yang 0,05; 0,08 dan 0,1 mg per tablet. Sedangkan dosis dan jenis progesteronnya bervariasi dari masing-masing pabrik pembuatnya. Cara kerja : • Menekan sekresi gonadotropin dari hipofise secara terus – menerus, sehingga tidak terjadi ovulasi. • Merubah konsistensi lendir serviks menjadi tebal dan kental, sehingga penetrasi dan transportasi sperma akan terhalang, sulit, atau tidak mungkin sama sekali. • Merubah peristaltik tuba dan rahim, sehingga mengganggu motilitas tuba untuk ovum dan transportasi sperma. Menimbulkan perubahan pada endometrium, sehingga tidak memungkinkan terjadinya nidasi. • Merubah kepekaan indung telur terhadap rangsangan-rangsangan gonadotropin. Manfaat : • Memiliki efektivitas yang tinggi, dapat dipercaya jika dimakan sesuai aturan pakainya • Pemakai pil dapat hamil lagi, bilamana dikehendaki kesuburan kembali dengan cepat • Tidak mengganggu hubungan seksual • Resiko terhadap kesehatan sangat kecil • Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang, tidak terjadi nyeri haid • Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan • Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause • Mudah dihentikan setiap saat • Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat • Dikatakan dapat mengurangi angka kejadian kanker ovarium Kekurangan : • Pil harus dimakan setiap hari, kurang cocok bagi wanita yang pelupa • Mual, terutama pada 3 bulan pertama • Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama • Pusing, nyeri payudara, berat badan naik sedikit • Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI) • Meningkatkan tekanan darah, retensi cairan, sehingga resiko stroke, dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat • Tidak mencegah IMS Yang dapat menggunakan pil kombinasi : • Usia reproduksi, telah memiliki anak ataupun belum memiliki anak • Gemuk atau kurus • Setelah melahirkan dan tidak menyusui • Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif, sedangkan semua cara kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok bagi ibu tersebut • Pascakeguguran, anemia, nyeri haid hebat, siklus haid tidak teratur • Riwayat kehamilan ektopik, kelainan payudara jinak, DM tanpa komplikasi, penyakit tiroid, penyakit radang panggul dll • Varises vena Yang tidak boleh menggunakan pil kombinasi : • Hamil atau dicurigai hamil, menyusui eksklusif • Perdarahan pervaginam yang belum diketahui • Penyakit hati akut • Perokok usia > 35 tahun • Riwayat penyakit jantung, stroke, tekanan darah > 180/110 mmhg, riwayat gangguan pembekuan darah atau DM > 20 tahun, kanker payudara, migrain dan gejala neurologi fokal • Tidak dapat menggunakan pil secara teratur. Waktu mulai menggunakan pil kombinasi : • Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil. • Hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid • Boleh menggunakan pada hari ke-8, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain mulai hari ke-8 sampai hari ke-14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai paket pil tersebut habis. Setelah melahirkan : • Setelah 6 bulan pemberian ASI eksklusif • Setelah 3 bulan dan tidak menyusui • Pasca keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) • Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin menggantikan dengan pil kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid. D. IMPLANT Keuntungan Kontrasepsi Implan :  Sangat efektif (0.05–11 kehamilan per 100 wanita dalam tahun pertama pemakaian)  Segera bekerja efektif (< 24 jam)  Metode jangka panjang (perlindungan s/d 5 tahun)  Pemeriksaan panggul tidak diperlukan sebelum pemakaian  Tidak mengganggu proses sanggama  Tidak berpengaruh pada produksi ASI  Kesuburan segera pulih setelah dilepaskan  Efek samping minimal  Klien hanya kembali apabila ada masalah  Tidak perlu pemeriksaan tambahan untuk klien  Dapat dipasang oleh petugas kesehatan terlatih (dokter, bidan atau perawat)  Tidak mengandung estrogen Waktu Penggunaan :  Setiap waktu wanita tersebut dinyatakan tidak hamil  Dalam 7 hari pertama menstruasi  Pascapersalinan:  sesudah 6 bulan jika memakai metode laktasi amenorea (MLA)  setelah 6 minggu jika memberikan ASI tetapi tidak memakai MLA  Segera setelah 6 minggu jika tidak memberikan ASI  Dalam 11 hari pertama pascakeguguran E. IUD Jenis IUD di Indonesia ada beberapa macam, diantaranya : • Lippes Loop • CuT 380A --------- jenis ini yang digunakan oleh BKKBN • Nova T Cara kerja IUD :  CuT-380A mencegah fertilisasi → ion tembaga menurunkan motilitas dan fungsi sperma, mengganggu cairan tuba dan uterus, mencegah sperma mencapai tuba dan membuahi sel telur.  IUD tembaga menyebabkan trauma lokal di endometrium karena respon tubuh terhadap benda asing → perubahan biokimiawi sehingga dihasilkan lingkungan dalam uterus yang toksik dan letal terhadap sperma dan embrio. Keuntungan penggunaan IUD :  Efektivitas tinggi, perlindungan jangka panjang dari kehamilan (10-12 th).  Fertilitas cepat kembali setelah pengangkatan.  Tidak ada efek samping hormonal.  Secara ekonomis tidak mahal dibandingkan jangka waktu pemakaian.  Nyaman, tidak membutuhkan tindakan setiap hari dan tidak ada kunjungan ulang untuk kontrol.  Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI. Rumor dalam masyarakat : * Ngeri ada benda asing dalam badan. * Dapat geser2 sampai keluar dari kandungan. * Harus dilepas 5 tahun lagi. * Ada yang keluar sendiri. * Ada yang masih bisa hamil. Waktu pemasangan IUD : 1. Dalam 48 jam pasca persalinan (termasuk segera setelah plasenta lahir) 2. Bila 4 minggu/lebih pasca persalinan belum haid langsung dipasang IUD (tidak perlu kontrasepsi perlindungan). 3. Bila 4 minggu/lebih pasca persalinan sudah haid dipasang dalam 7 hari haid, atau jika dipasang >7 hari haid perlu menunda hubungan seks atau kontrasepsi perlindungan selama 7 hari. 4. Persalinan bedah cesar  IUD dipasang setelah plasenta lahir, sebelum menjahit dinding rahim. WHO (Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use, 2008) Daftar Pustaka 1. Biran Affandi, Prof, dr, SpOG(k) ; Hasil Workshop Peningkatan KB di RS, Bandung, 2009. 2. dr. Hartanto Hanafi 2002. Keluarga Berencana dan KB. Pustaka Sinar Harapan Jakarta. 3. Prawirohardjo S. 2003. Buku Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, EGC. Jakarta. 4. Grimes DA, Lopez LM, Schulz KF, Van Vliet HAAM, Stanwood NL up-to-date : 31 March 2010. 5. Selected Practice Recommendations For Contraceptive Use ; 2 ed, 2004