AdpinBerita

Apel Siaga HARGANAS, stunting jadi perhatian besar

Beberapa pegawai Perwakilan BKKBN Jawa Tengah mengikuti Apel Siaga HARGANAS di ruang pertemuan kantor Perwakilan BKKBN Jawa Tengah  yang dilangsungkan secara virtual serentak se – Indonesia, Senin (21/9). Foto : AFDA – Advokasi & KIE.

 

Semarang – Ada pemandangan berbeda pada apel pagi di hari Senin ini (21/6).  Memperingati Hari Keluarga Nasional ke-28 tahun ini, BKKBN menggelar apel siaga HARGANAS serentak yang diikuti oleh seluruh perwakilan BKKBN provinsi se – Indonesia melalui virtual, tak terkecuali Perwakilan BKKBN Jawa Tengah.

Beberapa koordinator dan sub koordinator Perwakilan BKKBN Jawa Tengah turut hadir di ruangan pertemuan vasektomi untuk mengikuti jalannya apel siaga ini, sedangkan seluruh pegawai sisanya mengikuti secara virtual di ruangan masing – masing.

Bertindak sebagai pembina apel, DR (HC). dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Kepala BKKBN memulai arahannya dengan menjelaskan evaluasi perjalanan pelaksanaan program Bangga Kencana dalam kurun 5 tahun kebelakang.

Ia menyebutkan bahwa ada di satu titik dimana BKKBN mengalami keterpurukan, yaitu pada tahun 2019.

“Inilah rapot kita, sehingga di tahun 2019 ini terjadi titik keterpurukan, kemudian di tahun 2020 datang pandemi”, ujar Hasto sapaannya.

Pernyataan tersebut ia sampaikan setelah mencermati data dari beberapa indikator kinerja BKKBN mulai tahun 2017 hingga 2019 yang mengalami penurunan sangat signifikan dan tidak mencapai taget yang ditetapkan.

Beberapa diantaranya adalah Total Fertility Rate (TFR) atau Angka Kelahiran Total berada di posisi 2,45 lalu Age Spesific Fertility Rate (ASFR) atau Angka Kelahiran Spesifik Usia 15 – 19 tahun di angka 33, Modern Contraceptive Prevalence Rate (mCPR) atau Prevalensi Pemakaian Kontrasepsi Modern yang turun drastis di angka 54,9% hingga Unmetneed atau Kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi yang semakin menjauh di angka 14,4.

“Itulah kita kenapa harus ada alasan kalau kerjanya seperti biasa pasti lewat, harus betul – betul tidak businness as usual, seperti arahan pak presiden, karena di satu sisi kita mengalami titik keterpurukan di sisi lain kita menghadapi pandemi”, jelasnya.

Oleh karenanya, ia menuturkan di tahun 2020 segala upaya dan kerja keras telah dilakukan BKKBN untuk bangkit dari keterpurukan namun hasilnya hanya mampu menahan angka – angka di indikator kinerja agar tidak semakin menurun. Menurutnya, perlu kerja keras, cerdas dan luar biasa untuk semakin menjauh dari zona keterpurukan.

Selain itu, di tahun 2020 ia juga menjelaskan bahwa BKKBN mendapat amanah dan tugas baru dari Presiden yaitu Penurunan Stunting. BKKBN ditunjuk Presiden sebagai Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia.

Ia mewanti – wanti kepada seluruh jajarannya agar tidak berpikir negatif dan merasa terbebani dengan tugas baru ini.

“Jangan pernah punya pemikiran bahwa ketika punya tugas baru (stunting-red), ini pasti merepotkan tugas yang lama”, tegas Hasto.

Karena menurutnya, langkah – langkah yang dikerjakan dalam mencegah sekaligus menurunkan stunting ini akan menyelesaikan berbagai indikator kinerja BKKBN yang tidak tercapai, mengingat semuanya sangat beririsan.

Ia mencoba mencontohkan bahwa stunting sangat erat kaitannya dengan spacing birth to birth and pregnancy to pregnancy interval atau jarak kehamilan dan kelahiran berikutnya. Menurut penelitian, jarak kehamilan dan kelahiran yang kurang dari 3 tahun meningkatkan resiko terjadinya stunting, dan itu beririsan dengan program KB atau penggunaan kontrasepsi.

Tugas baru BKKBN ini menurutnya juga tidak mudah karena sudah banyak ahli yang memprediksi bahwa prevalensi stunting akan semakin meroket terlebih  adanya pandemi covid, bisa mencapai 32%. Prediksi ini didasari atas banyaknya jumlah nenonatus, bayi dan balita yang meninggal dimana hal tersebut mengindikasikan banyaknya angka kesakitan pada kelompok tersebut, dan stunting bagian dari kesakitan itu.

“Saat ini, di daerah kita punya Kampung KB, harus dioptimalkan, disamping kita juga menambahkan upaya kita dengan pendamping keluarga, yaitu bidan, kader dan PKK, yang Inpres (Instruksi Presiden)-nya segera turun. Ini modal dan kekuatan besar kita”, ujar Hasto mengakhiri arahan apel siaga pagi ini.

Tak lupa, ia juga menyampaikan Selamat Hari Keluarga Nasional ke-28 untuk seluruh keluarga di Indonesia dan berharap keluarga – keluarga di Indonesia mampu menjadi Keluarga Tangguh, Sehat dan Sejahtera. AFDA

BKKBN adalah Sahabat Keluarga.

BKKBN adalah Mitra Keluarga.

Keluarga Indonesia Cegah Stunting.

Selamat Hari Keluarga.

Penyunting

BKKBN PROVINSI JAWA TENGAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *